Cerita Singkat Ahmad Jais Ely dalam Kompas

 

Di bawah guyuran hujan dan angin, Kapal Latih Alalunga milik Sekolah Usaha Perikanan Menengah Ambon bertolak dari pesisir Teluk Ambon yang teduh menuju Laut Banda yang tengah dilanda gelombang, Kamis (17/9/2020) siang. Belasan anak muda ikut berlayar menempa diri agar kelak bisa menjadi pelaut dunia, sebuah cita-cita yang mereka impikan.

Teluk Ambon tak bergelombang, kapal melaju dengan kecepatan 8 knot atau 14,8 kilometer per jam membelah permukaan air. Mereka masing-masing berada pada posisi yang ditentukan, di ruang mesin, ruang kemudi, dan sisanya menyiapkan alat tangkap long line berupa tali senar yang dipasangi mata kail dengan umpan ikan pelagis kecil. Long line biasa digunakan untuk menjerat ikan tuna dan cakalang.

Baca juga: Berlatih Ketat, Berbuah Selamat

Lebih dari satu jam berlayar, gulungan gelombang Laut Banda mulai terasa menghantam badan kapal berukuran 29 gros ton itu. Kapal mulai oleng. Mereka yang berdiri di haluan dengan pandangan mengarah ke depan melihat tanda-tanda gerombolan ikan. Gerombolan ikan tuna atau cakalang biasa terlihat bermain di permukaan air sambil menghindar kejaran elang laut yang hendak mematuk.

Gelombang kian tinggi, sekitar 2 meter lebih. Para anak muda itu masih berdiri tegak, tetapi ada yang mulai mual. Wajah pucat dan terus menguap tak karuan. Mereka yang tak bisa menahan mual terpaksa duduk bersandar di dinding kapal. ”Jangan menunduk, lihat ke depan. Kalau mau muntah jangan tahan-tahan,” kata La Risman (17) kepada rekannya yang mabuk gelombang.

Di saat yang sama, gerombolan ikan mulai terlihat. Kapal tiba di lokasi penangkapan Laut Banda yang diperkirakan memiliki potensi ikan 615.372 ton per tahun. Waktu penangkapan tiba. Mereka yang mual memaksa muntah dengan tujuan agar bisa kembali lega. Selesai muntah mereka buru-buru ke dapur membuat teh panas untuk menghangatkan tenggorokan, lalu

kembali lagi ke posisi masing-masing.

Tali pancing long line dibuang ke laut, lalu diulur dengan pelampung dan mata kail yang terpasang dalam jarak setiap 50 meter. Kapal terus bermanuver di tengah gerombolan ikan. Sekitar dua jam kemudian, long line digulung untuk mengecek ada tidak ikan yang terjerat. Kali ini, tak satu pun mata kail yang tersangkut ikan. Pencarian kembali berlanjut.

Demikian sekelumit proses pencarian ikan yang dialami Kompas saat mengikuti kapal latih tersebut. Perjalanan liputan ini ingin melihat para anak muda menempa diri di tengah laut dengan tujuan menjadi pelaut. Mereka terdiri dari siswa Sekolah Usaha Perikanan Menengah (SUPM) Ambon dan taruna Politeknik Kelautan Perikanan Maluku yang didampingi para guru mereka.

Achmad Jais Ely, Kepala SUPM, mengatakan, setiap tahun, seorang siswa wajib berlayar setidaknya 90 hari. Semakin sering melaut, mereka memiliki kompetensi dan kecakapan dalam memahami anatomi kapal, cuaca, alat tangkap, pergerakan ikan di air, dan penanganan ikan di atas kapal. Riwayat perjalanan mereka terekam dalam buku pelaut yang dimiliki masing-masing.

Baca juga: Bekal Selamat di Laut Asing

Setelah tamat, mereka diberi sertifikat ahli nautika kapal penangkap ikan tingkat II bagi yang mengambil jurusan nautika dan sertifikat ahli teknika kapal penangkap ikan tingkat II bagi yang mengambil jurusan mesin. ”Yang nautika itu menjadi nakhoda dan teknika itu menjadi kepala kamar mesin. Meski dari dua jurusan berbeda, mereka punya satu kesamaan, yakni bisa menangkap ikan,” kata Jais.

Ke luar negeri

La Risman yang kini duduk di bangku kelas III SUPM Ambon itu bermimpi ingin bekerja di luar negeri mengikuti jejak para alumni sekolah yang mulai dibuka sejak 1986 itu. Ratusan alumnus kini tersebar di sejumlah negara. Mereka bekerja di kapal ikan asing dan juga perusahaan pengolahan ikan. Mereka sukses membangun ekonomi keluarga. ”Bapak saya nelayan pesisir dan punya cita-cita menjadi pelaut dunia,” ujarnya.

SUPM Ambon memberikan kesempatan bagi alumni yang ingin berkiprah di luar negeri. Saat hendak tamat, perusahaan penyalur tenaga kerja yang sudah berkerja sama dengan sekolah menggelar seleksi. Persyaratan administrasi di antaranya memiliki sejumlah sertifikat kecakapan berupa nautika atau teknika, basic safety training, dan buku pelaut.

Mereka juga mengikuti pemeriksaan kesehatan. Tinggi minimal 160 sentimeter, kemudian memiliki otot lengan yang kuat. Kekuatan otot lengan diuji, misalnya dengan melakukan push up minimal 50 kali. Kekuatan otot lengan diperlukan bagi mereka yang akan melakukan pemancingan menggunakan long line atau pole and line. Tahap seleksi lainnya adalah tes akademik dan wawancara.

Setelah dinyatakan lolos, mereka diberangkatkan ke Jakarta untuk menjalani pelatihan bahasa asing dan belajar tentang kultur negara yang dituju. Proses persiapan berlangsung paling lama tiga bulan dan selanjutnya berangkat ke luar negeri. Sekolah ikut mengawal proses seleksi itu hingga penempatan di luar negeri. Sekolah masih terus terhubung dengan mereka. Jika terdapat kendala, sekolah terlibat membantu.

Proses pendidikan dan pembinaan saat siswa masih sekolah, pendampingan saat seleksi, hingga pemantauan ketika sedang bekerja di luar negeri membuat alumni dari sekolah itu tidak pernah menjadi korban kekerasan, apalagi perbudakan di luar negeri. ”Tahun ini ada alumni yang sakit dan meninggal di kapal di Amerika Latin, kami bantu urus sampai keluarga mendapatkan hak-hak mereka,” ujar Jais.

Baca juga: Putus Rantai Perbudakan

Elias Patinama (20), alumnus SUPM yang kini bekerja di Jepang, lewat sambungan telepon, menuturkan, ia mendapatkan perlakuan yang baik selama bekerja di sana sejak Mei 2019. Ia bekerja di bagian pengolahan ikan dengan gaji Rp 12 juta hingga Rp 15 juta per bulan. Sesuai dengan kontrak, ia bekerja di sana untuk tiga tahun dan terbuka peluang diperpanjang lagi.

Gaji dan hak-hak lainnya diterima utuh dan sebagian dikirim ke orangtua. Elias yang juga anak nelayan pesisir itu kini membantu membangun rumah di kampungnya, membeli sepeda motor dan perahu motor untuk ayahnya, serta membiayai pendidikan adik-adiknya. ”Di sini, teman angkatan saya dari SUPM sekarang lagi berlayar dengan kapal Jepang. Kami di sini baik-baik saja,” ujarnya.

Elias dan alumni SUPM lainnya yang kini sedang berlayar telah melewati proses panjang. Belajar di kelas, belajar melaut, hingga mengikuti seleksi bekerja di luar negeri sesuai dengan prosedur yang benar membuat mereka sukses menjadi pelaut dunia.

Baca Selengkapnya :

https://www.kompas.id/baca/internasional/2020/09/23/tak-mudah-melahirkan-pelaut-dunia-tor/

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »